Jumat, 28 Mei 2021

Dr Cipto Mangunkusumo - Pendobrak Kemiskinan dan Kebodohan Rakyat


Pahlawan Pergerakan Nasional


Dokter Cipto yang dilahirkan di Pecangakan, daerah Ambrawa, pada tahun 1886 merupakan contoh seorang pribadi yang menjalankan etika profesinya sebagai dokter dengan konsekuen


la dengan sadar mau menanggung dan memikul tanggung jawabnya meskipun hal itu berarti penjara, pembuangan, dan kesulitan-kesulitan lain yang harus dihadapi.


Setamat dari STOVIA (Sekolah Dokter Hindia) dokter Cipto diangkat sebagai dokter pemerintah. Pada awalnya, ia merasa bahwa dengan jalan itu, ia dapat mengabdikan keahliannya pada masyarakat. Tatkala bertugas di Demak, ia melihat keadaan kemis-kinan dan penderitaan masyarakat di kawasan itu. Sebagai seorang cendekiawan, dokter itu dapat melihat bahwa penyakit itu tidak datang dari langit melainkan sebagai akibat keadaan kemiskinan dan kebodohan masyarakatnya. Kemiskinan dan kebodohan itu bukan akibat ulah masyarakat di daerah itu tetapi bersumber pada kondisi sosial masyarakat yang terjajah. Analisis analisisnya yang tajam itu ditulis dan dipublikasikan dalam harian De Ex press dan berbagai surat kabar lain.


Reaksi pemerintah kolonial sangat keras dengan memperingatkan agar dokter itu berhenti menulis di surat kabar, jika ingin tetap menjadi dokter pemerintah. Namun, dokter Cipto tetap konsekuen dengan terus menulis di surat kabar dan melepaskan jabatannya sebagai dokter pemerintah. Sikap konsekuen itu ditunjukkan juga ketika pada tahun 1912, ia menerima bintang Orde van Oranje Nassau (kepahlawanan Belanda) atas jasanya memberantas wabah pes di Kepanjen, Malang. Tindakan itu dijalankan karena banyak dokter Belanda yang menolak tugas untuk membasmi wabah tu. Meskipun demikian, dokter Cipto mengembalikan bintang jasanya kepada pemerintah Belanda karena izin tugas untuk memberantas wabah pes di daerah Solo tidak diberikan kepadanya.


Dari perjuangan di lapangan kedokteran dokter Cipto melihat bahwa letak permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia adalah kehadiran penjajah Belanda. Kesadaran ini menumbuhkan minatnya untuk menekun masalah-masalah politik. Bersama dengan E.F.E. Douwes Dekker, da R.M. Suwardi Suryaningrat mendirikan Indische Partij (IP, Partai Hindia pada tahun 1912 yang merupakan partai politik pertama di Indonesia. Partai ini atas dasar nasionalisme untuk menuju kemerdekaan Indonesia sebaga "perumahan nasional bagi semua orang baik bumiputera, Belanda, Cina dan Arab yang mengakui Hindia sebagai negara dan kebangsaannya Pandangan itu dikenal sebagai nasionalisme Hindia (Indsche Nationa ism).


Pada tanggal 13 Maret 1913, IP yang diwakili oleh Douwes Dekker Cipto Mangunkusumo, dan I.G. van Ham menghadap Gubernur Jendra untuk memohon pe-ngesahan tetapi ditolak Artinya, IP dilarang bergerak d tengah masyarakat. Karena protes terhadap rencana perayaan 100 tahu terbebasnya Negeri Belanda dari pen-jajahan Perancis, ketiga serangka itu dibuang ke pembuangan di negeri Belanda. Di Negeri Belanda, dokter Cipto bekerja sebagai redaktur De Indier yang bercorak politik radika sebagai kelanjutan perjuangan politiknya di Hindia Belanda Pada masa pembuangan itu, penyakit asmanya kambuh sehingga harus dipulangkan ke Indonesia.


Meskipun berbagai pembatasan dikenakan nama dokter Cipto tetap tidak surut dari pergerakan politik. Tempat tinggalnya di Bandung merupakan tempat berkumpul tokoh-tokoh pergerakan di sekitar Soekarno. Di samping itu la aktif membina Institut Kesatrian. Institut ini merupakan lembaga pendidikan yang didirikan oleh Danu Dirjo Setiabudi, rekannya di Indishche Partij (IP), pada tahun 1922. Kegiatan-kegiatan politik itulah yang menyebabkan ia dibuang ke Bandaneira setama tiga belas tahun lamanya. Dari Bandaneira dokter pejuang itu dipindahkan ke Sukabumi, Jawa Barat dan akhirnya di Jakarta.


Dokter Cipto masih menyaksikan runtuhnya pemerintah kolonial Belanda, lawan yang tidak jemu jemunya ditentangnya dengan penyerahannya tanpa syarat di Kalijati pada tahun 1942 Pemerintah Belanda diganti dengan Bala Tentara Jepang yang tidak kalah kejamnya. Bangsanya tetap menunggu uluran tangan dan semangat juangnya mengusir penjajah yang terakhir ini namun kesehatannya terus menurun. Akhirnya, ia menutup mata untuk selama-lamanya di Jakarta pada tanggal 8 Maret 1943 dan dimakamkan di Watu Ceper, Ambarawa.


Pemerintah Indonesia menganugerahi gelar Pahlawan Pergerakan Nasional pada tahun 1964.


Dr. Sutomo - Pendiri Budi Utomo


Sekelompok mahasiswa STOVIA (School tof Opleiding van Indische Aartsen Sekolah Dokter Hindia) menerima tamu seorang dokter Jawa bernama Wahidin Sudirohusodo yang mengusahakan suatu beasiswa (studie-fonds) bagi pelajar dan mahasiswa Bumiputera


Dokter Wahidin menjelaskan usaha usaha yang telah dilakukannya. Kelompok mahasiswa itu sudah biasa berkumpul dan melakukan diskusi-diskusi membicarakan tentang nasib bangsa pribumi yang terjajah yang hadir, berkomentar dalam bahasa Jawa "puniko budi ingkang utami Sutomo, salah seorang mahasiswa (Hal itu merupakan upaya yang mulia). Pertemuan itu tidak berakhir sampai di situ saja tetapi berlanjut pada masa-masa selanjutnya.


Para mahasiswa itu kemudian mendirikan suatu organisasi yang diberi nama Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908 dan Sutomo dipilih sebagai ketuanya.


Budi Utomo merupakan organisasi pergerakan pertama yang bercorak modern. Corak modern itu ditandai dengan adanya Anggaran Dasar dan Annggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi yang jelas, tujuan organisasi, pergantian pimpinan, dan dukungan massa yang jelas. Hal itu berbeda dengaan organisasi pergerakan sebelumnya yang bersifat kharismatis dan spontan. Bila pimpinan pergerakan itu ditangkap - seperti terjadi dalam Perang Diponegoro - maka pupuslah sudah perlawanan itu


Budi Utomo memiliki tujuan dan rencana kerja yang disusun sebelumnya. Jadi, bukan merupakan gerakan yang spontan dari seorang pemimpin yang kharismatis


Para pengurus Budi Utomo pada mulanya membatasi geraknya pada


penduduk Jawa dan Madura dan tidak melibatkan diri dalam kegiatan politik Bidang kegiatan yang dipilihnya adalah bidang pendidikan dan budaya. Hal itu dapat dipahami mengingat Regering Reglement (Peraturan Pemerintah) pasal 11 pada waktu itu yang melarang semua kegiatan Bumiputera yang bercorak politik.


Pengabdiannya Sebagai Dokter


Setelah Dokter Sutomo menamatkan STOVIA mendapat tugas di Semarang pada tahun 1911. Dari kota itu, ia dipindahkan ke Tuban, Lubuk Pakam (Sumatera Utara), dan ke Malang.


Di kota Malang itu, ia harus berjuang melawan penyakit pes yang melanda daerah itu. Wabah itu mengakibatkan kesengsaraan rakyat. Sebagai seorang dokter, sesuai dengan sumpahnya, ia membantu tanpa mengharapkan balas jasa pasiennya dengan tanpa menetapkan tarif pengobatan. Bahkan, ia sering membebaskan mereka dari pembayaran pemeriksaan dan obat-obatan.


Tugas-tugasnya yang berat sebagai dokter di tengah masyarakat tidak memadamkan hasratnya untuk memperdalam ilmu dan meningkatkan profesionalitasnya.


Pada tahun 1919, dokter Sutomo memperoleh kesempatan untuk memperdalam ilmunya ke Eropa dengan belajar di Negeri Belanda, Jerman, dan Austria. Kesibukannya memperdalam ilmu juga tidak memadamkan minatnya akan bidang politik.


Di Negeri Belanda, ia bergabung dengan Indische Vereneging (Perhimpunan Hindia) yang dikemudian hari berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia. Dalam kelompok itu, tergabung mahasiswa Indo nesia seperti Mohammad Hatta, Nazir Pamuntjak, Djunaedi, Sukiman, Ichsan, Dahlan Abdullah, dan Subarjo.


Pegerakan Nasional


Sekembalinya ke Indonesia, ia menganjurkan agar Budi Utomo bergerak dalam bidang politik dan anggotanya terbuka untuk semua warga masyarakat la pada tahun 1924 mendirikan Indonesiche Studieclub alompok Belajar Indonesia, ISC) di Surabaya yang kemudian berkembang menjadi Persatuan Bangsa Indonesia.


Dokter Sutomo dan juga pemimpin nasionalis lainnya menganggap bahwa azas "kebangsaan Jawa" dari Budi Utomo sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan rasa kebangsaan waktu itu.


Lewa: ISC didirikan asrama pelajar, sekolah tenun, bank kredit, dan koperasi. Pada tahun 1931,, organisasi itu berganti nama menjadi Persatuan Bangsa Indonesia (PBI). Gubernur Jendral de Graef diganti oleh de Jonge pada tahun 1931 ketika Krisis Malaise masih merajalela. Sikapnya sangat reaksioner dan tidak bersedia berkompromi dengan kaum pergerakan. Pers diberangus dan rapat-rapat partai diawasi oleh polisi rahasia secara ketat Pemerintah bertangan besi" ini menyebabkan kelumpuhan pergerakan nasional,


Untuk mengimbangi tindakan pemerintah Belanda itu pada bulan Desember 1935 Budi Utomo dan PBI bergabung dengan nama Partai Indone sia Raya (Parindra). Guna mamberi semangat kepada masyarakat, ia juga aktif dalam bidang pers dan memimpin beberapa surat kabar.


Kesibukannya dan tekanan hidup akibat perjuangan nasional menjadikan fisik dan kesehatannya melemah, la menutup mata untuk selama-lamanya pada tanggal 30 Mei 1938 di Surabaya dalam usia 50 tahun.


Demikianlah selintas riwayat Dokter Sutomo, seorang dokter pejuang yang berpihak kepada bangsanya (rakyat kecil) adakah para dokter pada masa sekarang ini yang memberikan pengobatan gratis kepada para pasiennya yang tidak mampu-seperti sudah dilakukan Dokter Sutomo saat bertugas di Malang -Jawa Timur

Cut Meutia - Pejuang Wanita Yang Pantang Menyerah


Setelah berperang selama empat puluh tahun, kedudukan pasukan Aceh mulai terdesak. Keluarga Sultan Aceh dapat ditawan Belanda dan dijadikan sandera. Sementara itu, tekanan-tekanan pasukan musuh makin gencar. Sultan Alaudin Muhammad Daud Syah terpaksa menyerah kepada Belanda dengan upacara penyerahan pada tanggal 20 Januari 1903. Kurang lebih sembilan bulan kemudian Panglima Polim bersama 150 prajuritnya menyerah diri. Penyerahan para petinggi itu memang menurunkan semangat juang pasukan perlawanan. Namun demikian, perlawanan rakyat belum padam. Salah satu perlawanan yang masih berkobar datang dari pasukan Cut Meutia beserta suaminya dan pasukannya.


Cut Meutia dilahirkan di Perlak, Aceh pada tahun 1870. Masa kecil dan remajanya diliputi suasana peperangan antara Aceh dengan Belanda yang berkepanjangan. Suasana perang itu membentuk pribadinya menjadi pejuang Perjuangannya didukung oleh suaminya Teuku Cik Tunong. Suami istri itu mengadakan perang gerilya dan penyergapan terhadap patroli Belanda. Meskipun beberapa pemimpin tertangkap dan ada ajakan untuk berdamai dari Belanda namun para pejuang itu pantang mundur.


Kesulitan besar dihadapi Cut Meutia ketika pada bulan Mei 1905 Teuku Cik Tunong ditangkap Belanda dan dijatuhi hukuman mati. Kematian suaminya tidak membuatnya jera untuk terus berjuang, la mengikuti pesan suaminya, Cik Tunong, untuk menikah lagi dengan teman akrab suaminya. Pang Nangru. Bersama suaminya yang baru itu, ia meneruskan perjuangan. Mereka mengadakan penyergapan-penyergapan terhadap patroli Belanda. Dalam pertempuran sengit di Paya Cicem, pada tanggal 26 September 1910 Pang Nangru, suaminya, terbunuh tetapi Cut Meutia dapat meloloskan diri, la dengan pasukan berkekuatan 45 orang dengan 13 pucuk senjata melanjutkan perjuangan. Anaknya yang berumur sebelas tahun dan


bernama Raja Sabil mengikuti ibunya dalam berbagai medan pertempuran. Karena kekuatan pasukan tidak seimbang lagi maka pasukan Cut Meutia berpindah-pindah dari suatu daerah ke daerah lain. Melihat kondisi fisik pasukan yang memprihatinkan, beberapa kerabat dan keluarganya menyarankan agar Cut Meutia menyerahkan diri dan mohon pengampunan. Anjuran itu ditolaknya mentah-mentah


Pada suatu saat tempat persembunyian pasukannya diketahui pihak musuh. Belanda mengadakan pengepungan basis pasukannya tetapi tidak membuat Cut Meutia menyerah. Pertempuran sengit dengan tentara Belanda terjadi, tokoh wanita itu tertembak kakinya. Pasukan Belanda memerintahkan para pejuang untuk menyerah tetapi tidak dihiraukan Cut Meutia. Sebaliknya, Cut Meutia menghunus pedangnya dan dengan sengit menyerang tentara Belanda di hadapannya. Korban di pihak tentara Belanda pun berjatuhan tetapi beberapa butir peluru yang bersarang di tubuhnya menyebabkan pejuang wanita itu roboh dan gugur.



Cut Nyak Dien - Pejuang Wanita Yang Tangguh


Cut Nyak Dien dilahirkan di Lampadang, Aceh Besar pada tahun 1850. Nanta Setia, ayahnya adalah Ule-balang VI Mukim, seorang Aceh keturunan Minangkabau. la menikah dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga. Pada awal ia membangun keluarga itu, hubungan antara Kerajaan Aceh dan Belanda sangat buruk akibat rencana Belanda untuk menaklukkan kerajaan itu.


Pada tahun 1873 meletus perang Aceh melawan Belanda. Dua tahun kemudian daerah VI Mukim dapat diduduki Belanda Cut Nyak Dien mengungsi ke tempat lain bersama dengan anaknya yang masih kecil dan terpaksa harus berpisah dengan suami dan ayahnya. Ibrahim Lamnga di kemudian hari gugur dalam pertempuran di Gle Tarum pada bulan duni 1870. Sejak saat itu, Cut Nyak Dien bersumpah akan membalas kematian suaminya dan melibatkan diri dalam perjuangan.


Pada tahun 1880, dia menikah untuk kedua kalinya dengan Teuku Umar kemenakan ayahnya. Teuku Umar adalah pejuang Aceh yang terkehal karena terlibat dalam perebutan kembali daerah VI Mukim dari tangan Belanda Suaminya itu terkenal katena kecerdikan dan keahliannya memimpin pasukan. Cut Nyak Dien pada bulan Februari 1878 menghadapi serbuan yang hebat dari pasukan Belanda yang menembakkan meriam-meriamnya dari kapat-kapal mereka. Menghadapi tekanan berat itu pasukan Aceh bergerak ke Aceh Besar: Dari wilayah itu para pejuang melancarkan serangan-serangan terhadap pos-pos Belanda dan memaksa Belanda meninggalkannya


Suaminya pada bulan Agustus 1893 menyerahkan diri kepada Belanda dan menjadi tentara Belanda. Di kalangan pejuang Aceh timbul tanda tanya besar tentang sikapnya Cut Nyak Dien yang mendampingi pejuang itu mulai khawatir dan menganjurkan suaminya agar berubah sikap dan mengadakan perlawanan lagi terhadap Belanda. Sebenarnya anjuran itu tak perlu sebab apa yang dilakukan oleh Teku Umar hanyalah taktik belaka, pada saat yang tepat ia terbukti berbalik melawan Belanda. Dalam pertempuran hebat di Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899, Teuku Umar gugur. Sejak kematian sueminya itu, Cut Nyak Dien yang ketika itu sudah berumur 50 tahun mengambil alih pimpinan pasukan.


Cut Nyak Dien terus melakukan perlawanan gerilya di berbagai daerah. la tidak menghiraukan umurnya sudah semakin tua dan pasukannya makin berkurang ditambah dengan matanya sudah mulai rabun. Situasi perang dengan berbagai ketegangan psikologis menyebabkan kondisi fisiknya melemah ditambah dengan penyakit encok yang menggarogotinya makin menambah beban yang harus dipikulnya.


Keyakinan perjuangannya untuk mengusir kapke ulanda (Belanda kafir) telah mendorongnya untuk terus bertahan. Keadaan fisiknya yang lemah menyebabkan rasa iba di kalangan anak buahnya. Rasa iba melemahkan semangat juang mereka sehingga akhirnya seorang anak buahnya melaporkan kepada pasukan Belanda. Pada saat ditangkap, ia sempat mencabut rencongnya dan dihujamkan kepada pelapor itu tetapi dapat dicegah oleh seorang serdadu Belanda


Tokoh wanita muslimah pejuang itu dibuang ke Sumedang, Jawa Barat dan meninggal karena usia tua di kota itu pada tanggal 6 November 1908.


Chairil Anwar - Si Penyair Nyentik


Chairil (baca Khairil) Anwar dilahirkan di Medan 26 Juli 1922. la tidak tamat MULO namun ia menguasa bahasa Belanda Inggris, dan Jerman yang dipelajarinya secara otodidak. Bekal bahasa asingnya yang baik itulah, yang membuatnya dapat memahami ruisi-puisi para penyair asing la mampu menerjemahkan, menyadur dan juga menciptakan karya-karyanya yang khas yang mendobrak semua tatanan yang telah baku.


Menurut catatan, karya Chairil Anwar berupa 70 puisi asli, 10 puisi terjemahan, 4 puisi saduran dan 4 prosa terjemahan. Sekalipun tidak banyak karyanya, namun semua karyanya mencirikan kekuatan pendobrakannya pada tatanan yang telah baku itu. Karya-karyanya jauh berseberangan dengan pola keindahan sastra yang dihasilkan para Pujangga Baru, namun justru karena pemberontakannya itu keindahan karyanya malah terasa menguat.


Sayang, masa hidup penyair nyentik ini tidak lama. la meninggal karena penyakit TBC pada 28 April 1949 di Jakarta. Jazadnya dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta.


Setelah kematiannya, puisi-puisinya diterbitkan dalam buku kumpulan puisi bertajuk: Kerikil Tajam dan Yang Terempas, Deru CampurDebu, dan Tiga Menguak Takdir. Sekalipun ia telah tiada, namun puisi-puisinya tetap hidup, dibaca dan dihapal jutaan anak-anak Indonesia dari generasi ke generasi berikutnya.

Kamis, 27 Mei 2021

Christina Martha Tiahahu - Srikandi Dari Timur


Christina masih sangat muda ketika perjuangan Kapitan Pattimura mengusir penjajah Belanda sedang berkobar. Sebagai seorang anak raja, ia sangat memahami penderitaan rakyat dan harapan masyarakat kepadanya. Ayahnya adalah raja Abubu yang sudah tua. Karena usianya yang sudah lanjut, Raja Paulus Tiahahu menarik diri dari pemerintahan dan digantikan oleh Patih Manusama. Karena pengaruhnya yang besar di kalangan rakyat, Paulus Tiahahu diangkat menjadi kapitan pasukan Nusalaut. Ia tidak tinggal diam dengan keterlibatan ayahnya dengan gelar Kapitan Paulus Tiahahu. Christina dengan dalam usaha mengusir Belanda dari tanah airnya.


Benteng Belanda, Duurstede, berhasil direbut oleh pasukan perjuangan pada tanggal 17 Mei 1817, disusul dengan jatuhnya Benteng Beerdijk Pasukan Belanda yang ada di kedua benteng itu dapat dibinasakan seluruhnya. Usaha pasukan Belanda dengan mengerahkan kapal Zwaluw untuk merebut benteng itu tidak berhasil. Himbauan Lak-samana Muda Buyskes, lewat surat yang dibacakan oleh dua orang raja Maluku tidak berhasil mempengaruhi rakyat. Kapitan Paulus dan putrinya dengan gigih memper-tahankan Benteng Beverdijk. Sorak-sorai pasukan yang bercakalele, teriakan perang yang mengudara dan menyebabkan bulu kuduk berdiri. Di tengah pasukan itu, seorang gadis remaja berambut panjang berikat kain merah mendampingi ayahnya. Ia memberi semangat pasukan Nusalaut untuk terus bertahan.

Usaha Belanda yang terakhir adalah melakukan tipu muslihat dengan memperalat seorang guru bernama Sosalisa. Ia memasuki benteng dengan mengatasnamakan semua raja di Nusalaut, ia menyatakan bahwa para raja telah sepakat untuk berdamai dengan Belanda. Tipu muslihat ini berhasil pada tanggal 10 November 1817 Belanda dapat memasuki benteng Belanda kemudian mengadakan penangkapan-penangkapan, di antaranya adalah Kapitan Paulus dan putrinya. Raja Paulus segera dijatuhi hukuman mati. Raja Abubu itu dipenggal kepalanya dan tubuhnya dihujani peluru sampai mati.


Setelah ayahnya dihukum mati, Christi diserahkan dalam asuhan guru Sosalisa setelah dibebaskan dari tahanan di Benteng Duurstede. Tanpa air mata yang menitik, ia melangkah keluar. Puteri raja itu tidak sudi tinggal di rumah pengkhianat Sosalisa dan memilih tinggal di hutan untuk meneruskan perjuangan. Ia berusaha mengumpulkan pasukan ayahnya yang masih tersisa namun sebelum maksudnya tercapai ia tertangkap.


Pemerintah Belanda menjatuhkan hukuman pembuangan dan kerja paksa di perkebunan kopi. Di atas kapal yang mengangkutnya ke Pulau Jawa, ia bungkam seribu bahasa dan mogok makan dan minum. Obat yang disodorkan, ditolak sehingga ia jatuh sakit dan tumbuhnya makin melemah. Pada tanggal 1 Januari menjelang tanggal 2 tahun 1818, ia menutup mata untuk selama-lamanya. Tubuh pahlawan wanita itu dikuburkan dengan dibuang ke laut antara Pulau Buru dan Pulau Tiga.la diangkat sebagai Pahlawan Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1969.

Bung Tomo - Pemekik Takbir Kemerdekaan


Nama aslinya Sutomo, namun lebih dikenal dengan panggilan Bung Tomo, lahir di Surabaya, 3 Oktober 1920. Sutomo dilahirkan di Kampung Blauran, di pusat kota Surabaya. Ayahnya bernama Kartawan Tjiptowidjojo, seorang kepala keluarga dari kelas menengah. la pemah bekerja sebagai pegawai pemerintahan, sebagai staf pribadi di sebuah perusahaan swasta, sebagai asisten di kantor pajak pemerintah, dan pegawai kecil di perusahan ekspor-impor Belanda la mengaku mempunyai pertalian darah dengan beberapa pendamping dekat Pangeran Diponegoro yang dikebumikan di Malang. Ibunya berdarah campuran Jawa Tengah, Sunda, dan Madura. Ayahnya adalah seorang serba bisa la pernah bekerja sebagai polisi di kotapraja, dan pernah pula menjadi anggota Sarekat Islam, sebelum ia pindah ke Surabaya dan menjadi dis tributor lokal untuk perusahaan mesin jahit Singer.


Sejak muda, ia telah mengikuti gerakan Kepanduan Bangsa Indone sia (KBI) yang dapat mengasah jiwa patriotismenya serta menumbuhkan sikap mandiri baginya. Ketika berumur 17 tahun, ia menjadi anggota Partai Indonesia Raya (Parindra) cabang Tembok Dukuh, Surabaya, la ditunjuk menjadi sekretaris dalam organisasi politik tersebut.


Sutomo pernah menjadi seorang jurnalis yang sukses. Kemudian ia bergabung dengan sejumlah kelompok politik dan sosial. Ketika ia terpilih pada 1944 untuk menjadi anggota Gerakan Rakyat Baru yang disponsori Jepang, hampir tak seorang pun yang mengenal dia. Namun semua ini mempersiapkan Sutomo untuk peranannya yang sangat penting, ketika pada Oktober dan November 1945, ia berusaha membangkitkan semangat rakyat sementara Surabaya diserang habis-habisan oleh tentara-tentara NICA Sutomo terutama sekali dikenang karena seruan-seruan pembukaannya di dalam siaran-siaran radionya yang penuh dengan emosi, "Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!"


Meskipun Indonesia kalah dalam pertempuran 10 November itu. kejadian ini tetap dicatat sebagai salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Indonesia. Setelah kemerdekaan Indonesia, Sutomo sempat terjun dalam duni politik pada tahun 1950-an, namun ia tidak merasa bahagia dan kemudia menghilang dari panggung politik Pada akhir masa pemerintahan Soekam dan awal pemerintahan Suharto yang mula-mula didukungnya, Sutom kembali muncul sebagai tokoh nasional


Padahal berbagai jabatan kenegaraan penting pernah disandang Bun Tomo la pernah menjabat Menteri Negara Urusan Bekas Pejuan Bersenjata/Veteran sekaligus Menteri Sosial Ad Interim pada 1955-1956 d era Kabinet Perdana Menteri Burhanuddin Harahap Bung Tomo juga tercata sebagai anggota DPR pada 1956-1959 yang mewakili Partai Rakyat Indonesia


Namun pada awal 1970-an, ia kembali berbeda pendapat dengar pemerintahan Orde Baru la berbicara dengan keras terhadap program program Suharto sehinga pada 11 April 1978 ia ditahan oleh pemerinta Indonesia yang tampaknya khawatir akan kritik-kritiknya yang keras. Bar setahun kemudian ia dilepaskan oleh Suharto. Meskipun semangatnya tida hancur di dalam penjara, Sutomo tampaknya tidak lagi berminat untu bersikap vokal.


la masih tetap berminat terhadap masalah-masalah politik, namun tidak pernah mengangkat-angkat peranannya di dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. la sangat dekat dengan keluarga dan anak-anaknya dan ia berusaha keras agar kelima anaknya berhasil dalam pendidikannya Sutomo sangat bersungguh-sungguh dalam kehidupan imannya namun tidak menganggap dirinya sebagai seorang Muslim saleh, ataupun calon pembaharu dalam agama. Pada 7 Oktober 1981 ia meninggal dunia di Padang Arafah, ketika sedang menunaikan ibadah haji. Berbeda dengan tradisi untuk memakamkan para jemaah haji yang meninggal dalam ziarah ke tanah suci, jenazah Bung Tomo dibawa kembali ke tanah air dan dimakamkan bukan di sebuah Taman Makam Pahlawan, melainkan diTempat Pemakaman Umum Ngagel di Surabaya.


Nama Bung Tomo memuncak ketika rakyat Surabaya terliba pertempuran amat dahsyat melawan pasukan Sekutu pada tanggal 10 November 1945. Suaranya yang menggelegar membakar dan memompa semangat juang rakyat Surabaya. Pekik khasnya: "Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!", adalah panggilan suci bagi segenap rakyat Surabaya untuk mempertahankan kemerdekaan negeri tercinta. Sejarah mencatal pertempuran Surabaya 10 November 1945 merupakan perang terdahsyat selama perjuangan kemerdekaan Indonesia hingga pemerintah Indonesia pun menetapkannya menjadi Hari Pahlawan.

Pada setiap tanggal 10 November setiap warga negara pasti akan teringat pada Bung Tomo! Teringat pada pekiknya Allahu Akbar ! yang diteriakkan berkali-kali untuk membakar semangat rakyat Surabaya dalam berjuang melawan tentara Sekutu.


Gelar pahlawan nasional akhirnya diberikan ke Bung Tomo bertepatan pada peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 November 2008. Keputusan ini Bung disampaikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Kabinet Indonesia uang Bersatu, Muhammad Nuh pada tanggal 2 November 2008 di Jakarta.



Basuki Rahmat


Basuki Rahmat dilahirkan di Tuban, 4 November 1921. Semula ia ingin menjad guru hingga ia meneruskan pendidikannya pada Sekolah Guru Muhammadiyah Yogyakarta. Namun ternyata ia tidak meneruskan minatnya menjadi pengajar dan kemudian memasuki dunia militer la mengikuti pendidikan Pembela Tanah Air (PETA) selama pendudukan Jepang Selepas pendidikan PETA, Basuki Rahma ditempatkan di daerah Pacitan dengan pangkat shodancho (Komandan Pelopor), Basuki Rahmat terus berkecimpung dalam dunia militer la terlibat aktif dalam pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Maospati. Sosok kepemimpinannya yang menonjol menyebabkan ia ditunjuk menjadi Komandan Batalyon 2 Resimen 31 Divisi IV/Ronggolawe dan kemudian ditunjuk menjadi Komandan Batalyon 16


Brigade 5 Divisi I Jawa Timur. Di jaman kemerdekaan ia pernah ditugas negara untuk menjadi Atase Militer Republik Indonesia di Australia dan juga pernah menjadi Komandan Komando Daerah Militer (KODAM) VII/Brawijaya dengan pangkat Mayor Jenderal. Ia juga terlibat aktif dalam mengembalikan Irian Barat kepangkuan Ibu Pertiwi dalam peristiwa Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat). Basuki Rahmat turut melakukan penumpasan gerakan 30 S PKI. Atas keberhasilannya, Basuki Rahmat kemudian diangkat menjadi Deputi Khusus Menteri/Panglima Angkatan Darat. Ia bersama Muhammad Yusuf dan Amir Mahmud menghadap Presiden Soekarno hingga lahirlah kemudian Supersemar yang sangat terkenal itu. 


Basuki Rahmat menjabat Menteri Dalam Negeri berturut-turut dalam 4 Kabinet, dimulai dari Kabinet Dwikora II, Kabinet Ampera 1, Kabinet Ampera II, dan Kabinet Pembangunan I. Basuki Rahmat wafat pada tanggal 8 Januar 1969. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta, dengan upacara kebesaran militer. 


Pemerintah Indonesia mengangkat Basuki Rahmat selaku Pahlawan Pembela Kemerdekaan tak lama setelah kematiannya, 1969.

Amir Hamzah - Raja Penyair Pujangga Baru


Amir Hamzah lahir di Tanjung Pura, Sumatera Utara 28 Februari 1911. Amir Hamzah menamatkan pendidikan HIS (setingkat SD) di Medan. Kerhudian ia melanjutkan pendidikan MULO (SMP) di Jakarta, dan AMS bagian A (SMA) di Solo, Jawa Tengah Kemudian ia meneruskan pendidikannya di Sekolah Tinggi Hukum Rechts Hoge School di Jakarta hingga meraih gelar sarjana muda.


Amir Hamzah sudah terlibat aktif dalam kegiatan politik sejak masih di Solo. Amir Hamzah pernah menjadi ketua Indonesia Muda cabang Solo. Demikian juga setelah proklamasi kemerdekaan, Amir Hamzah diangkat sebagai asisten residen RI untuk daerah Langkat. Amir Hamzah ikut pula terjun langsung dalam membantu perjuangan mempertahankan kemerdekaan.


Amir Hamzah juga dikenal sebagai sastrawan atau penyair angkatan Pujangga Baru. Nama Pujangga Baru diambil dari majalah yang ia terbitkan pada tahun 1933, Amir Hamzah adalah raja penyair pujangga baru. Selain Amir Hamzah, sastrawan yang ikut menerbitkan majalah Pujangga Baru adalah Sutan Takdir Alisyahbana dan Armijn Pane Mereka termasuk dalam pelopor angkatan Pujangga Baru. Sajak-sajaknya halus dan bernapaskan Ketuhanan. Beberapa karyanya yang terkenal di antaranya Nyany Sunyi dan Buah Rindu yang merupakan buku kumpulan sajak Amir Hamzah Saat Amir Hamzah menjabat sebagai asisten residen RI di Langkat, di seluruh Indonesia sedang terjadi revolusi sosial. Banyak kelompok atau pun gerombolan yang tidak bertanggung jawab melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap tokoh-tokoh yang mereka anggap kontra revolusi atau anti Republik. Banyak tokoh yang telah menjadi korban, baik sekedar diculik atau pun sampai dibunuh.


Tokoh tersebut di antaranya adalah Otto Iskandardinata dan Teuku Amir Hamzah, ia dibunuh di Kuala Begumit tanggal 20 Maret 1946. Beberapa bulan kemudian makamnya kemudian dipindahkan ke bagian samping Masjid Azizi, Tanjungpura. Berdasarkan SK Presiden RI No. 106/TK/ 1975, Teuku Amir Hamzah dianugerahi gelar Pahlawan nasional.

Rabu, 26 Mei 2021

Mr. Ali Sastroamijoyo



Ali Sastroamijoyo adalah sosok negarawan yang sejak muda telah terlibat dalam pergerakan nasional Ketika masih berstatus mahasiswa ia bersama tiga Kawannya pernah ditahan pemerintah Belanda karena aksi-aksi politik mereka Namun pengadilan Den Haag kemudian membebaskannya la menyelesaikan sekolah hukumnya di Faculteit der Rechtsgeleerdheid, Universitas Leiden Belanda, dan menyandang gelar Meester in de Rechten ( Mr) pada tahun 1927


Tahun 1928 Ali Sastroamijoyo kemba ke tanah air la lantas berkiprah dalam dunia jurnalistik dengan menjag redaktur surat kabar Janget dan juga menjadi wartawan pada harian Sedic Utomo Selain itu ia menjadi guru pada Perguruan Tamansiswa di Yogyakarta la juga bergabung dengan Partai Nasional Indonesia (PND) yang dibentuk dan dipimpin oleh Ir Sukarno.


Setelah Indonesia merdeka, ia pernah menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam tiga kabinet, yakni Kabinet Amir Syarifuddin I. Kabine Amir Syarifuddin II, dan Kabinet Hatta'l Ketika Belanda melancarkan agres II, ia bersama beberapa pemimpin Nasional lainnya ditangkap pasukan Belanda, la diasingkan ke Bangka


Perjalanan politik Ali Sastroamijoyo terus menanjak kemudian, diunjuk menjadi anggota delegasi Indonesia dalam perundingan dengan Belanda, yakni Perundingan Roem-Royen dan Konferensi Meja Bundar (KMB) Puncak karier politiknya diraihnya ketika menjabat Perdana Menter dalam 2 periode, yakni 30 Juli 1953-12 Agustus 1955 dan 24 Maret 1956 April 1957


Namanya mencuat ke dunia intemasional ketika berhasil memimp Konferensi Asia Afrika yang diadakan di kota Bandung pada tahun 195 yang melahirkan Dasa Sila Bandung. Dari Konferensi Asia Afrika itula kemudian lahir Gerakan Non Blok.


Ali Sastroamijoyo wafat di Jakarta, 13 Maret 1975. Jenazahn dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Pemerinta Indonesia mengangkat Mr. Ali Sastroamijoyo menjadi Pahlawan Nasion



Jenderal Anumerta Ahmad Yani


Ahmad Yani dilahirkan di daerah Jenar Purworejo, 19 Juni 1922. Ia hanya sempat mengenyam pendidikan kelas 2 AMS (Sekolah Menengah Atas) untuk seterusnya berkiprah dalam dunia militer. la pernah mengikuti pendidikan pada Dinas Topografi Militer di Malang dan Bogor pada Zaman pemerintah Kolonial Belanda. Ketika Jepang menduduki Indonesia, ia mengikuti pendidikan Heiho (Pembantu Prajurit Jepang) di Magelang Bekal pelatihan militer Belanda dan Jepang itu sangat berguna baginya untuk melawan dan melucuti persenjataan Nakamura Butal setelah melakukan pertempuran 7 hari di Magelang pada awal kemerdekaan Indonesia


Karier militer Ahmad Yani terus menanjak Berbagai tugas mengamankan negara dan rongrongan berbagai pihak berhasil ia tuntaskar dengan baik la berperan aktif memadamkan pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang melancarkan pemberontakarinya di Madiun tahun 1948 Berselang sekitar 3 bulan kemudian. Belanda melancarkan Agresi II, 19 Desember 1948, ia dipercaya sebagai Komandan Wehrkreise untuk daerah Kedu. Ketika berpangkat kolonel, ia ditunjuk selaku Komandan Operasi 17 Agustus dengan tugas khusus mengamankan daerah Sumatera Barat dari pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) tahun 1958 la juga aktif dalam penumpasan pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di daerah Jawa Tengah. Bakat dan kemampuannya yang menonjol membuatnya ditarik menjadi Staf Angkatan Darat la mendapat tugas untuk belajar pada Command And General Staff College, Amerika Serikat. Tahun 1962 ia menyelesaikan pendidikan militer nya tersebut.


Keberhasilan-keberhasilan yang ditunjukkannya dalam mengemban tugas negara membuatnya diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Namun dipuncak karirnya itu, ia menjadi korban keganasan Gerakan 30 September. Pada tanggal 30 September 1965 la dijemput dan diberondong senjata secara membabi buta di depan rumahnya Ahmad Yani gugur selaku kusuma bangsa dengan mempersembahkan jiwa raganya untuk Ibu Pertiwi yang tercinta. Seperti korban-korban penculikan lainnya, jenazahnya dimasukkan ke dalam sumur tua yang terletak di daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur Lima hari kemudian jenazah Letnan Jenderal Ahmad Yani dimakamkan kembali di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta, dengan upacara kebesaran militer.


Pemerintah Indonesia mengangkat Ahmad Yani menjadi Pahlawan Revolusi pada tanggal 5 Oktober 1965 setelah sebelumnya menaikkan pangkatnya satu tingkat menjadi Jenderal Anumerta.

KH. Ahmad Dahlan || Pendiri Muhammadiyah


Nama kecilnya Muhammad Darwis dilahirkan di kampung Kauman, Yogyakarta, pada tahun 1868 Ayahnya adalah seorang ulama yang menjadi khatib masjid Kasultanan Yogyakarta Sejak kecil ia telah dididik ilmu keagamaan oleh ayahnya Selain itu la juga menimba ilmu agama di pesantren-pesantren la dikenal pandai dan menguasai berbagal disiplin ilmu agama. seperti qira'at, fafsir, tauhid, fikih, tasawuf, dan juga ilmu falak.


Pada tahun 1883, Ahmad Dahlan berangkat ke Mekkah untuk menunaikan rukun Islam ke-5 sekaligus memperdalam ilmu keagamaannya. Selama 5 tahun ia berada di Mekkah dan selama itu ia banyak mempelajari sikap dan pandangan tokoh-tokoh Islam modern, semisal: Ibnu Taimiyah, Jamaluddin Al Afghani, Muhammad Abduh dan juga Rasjid Ridla. Ahmad Dahlan mengagumi pikiran dan pendapat mereka la juga semakin yakin, gagasannya untuk memajukan kaum Muslimin di tanah aimya, salah satunya melalui pendidikan, harus segera diwujudkannya. Pada tahun 1902, Ahmad Dahlan kembali lagi ke Mekkah. Perjumpaannya dengan Rasjid Ridla makin menguatkan tekadnya untuk mendirikan sebuah organisasi Islatn modem di Indonesia yang bercirikan Islam.


Rencana Ahmad Dahlan tidak berlangsung mulus. Ia harus berhadapan dengan kekuatan-kekuatan yang tidak menyukai dakwah, pemikiran dan gagasannya. Berulang-ulang ia diteror dan diancam untuk dibunuh. la juga difitnah dan mendapat julukan Kyai Palsu. Surau kecil yang dibangunnya dengan arah yang benar sesuai arah di mana Ka'bah selaku kiblat dalam shalat dibakar oleh orang-orang yang anti kepadanya. Ahmad Dahlan menghadapi semua cobaan itu dengan tabah la tetap melangkah maju. tak surut mendapat tantangan, tekanan, hambatan dan rintangan yang bahkan mengancam keselamatan nyawanya itu.


Keinginan Ahmad Dahlan untuk mengajarkan pendidikan Islam mo dem mulai dirintisnya pada tahun 1911 di Yogyakarta Ahmad Dahlan mendirikan sekolah yang tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama saja melainkan ilmu-ilmu umum: Nama sekolah itu Muhammadiyah. Bangunan sekolahnya juga mirip bangunan sekolah umum yang diadakan pemerintah Kalonial Belanda dan tidak mengambil surau atau langgar untuk tempat olah seperti yang dilakukan kebanyakan pendidikan keagamaan waktu


Pada tanggal 18 November 1912 Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah Slogan yang diungkapkannya adalah Kembali kepada Al Qur'an dan Al Hadits Muhammadiyah yang bergerak dalam bidang agama dan pendidikan ini banyak mendirikan sekolahsekolah, dari mulai Taman Kanak Kanak (TK) hingga perguruan tinggi, dan pada perkembangan selanjutnya organisasi ini juga banyak mendirikan lembaga sosial seperti rumah sakit dan panti asuhan. Kemajuan kaum wanita juga menjadi gagasan dan pemikiran Ahmad Dahlan, la menghendaki kaum wanita dapat maju eperti halnya kaum pria. Untuk itu ia mendirikan organisasi Aisyiyah pada tahun 1918 la juga membentuk kepanduan Hizbul Wathan (HW). Sekitar 5 tahun sesudal Aisyiyah berdiri,Ahmad Dahlan berpulang kerahmatullah pada tanggal 23 Februari 1923 Jenazahnya dimakamkan di Yogyakarta


Pemerintah Indonesia mengangkat Ahmad Dahlan menjadi Pahlawan Pergerakan Nasional pada tahun 1961.

Haji Agus Salim || Sang Diplomat Ulung


Nama lengkapnya adalah Haji Agus Salim yang semula dikenal sebagai Masyhudul Haq seorang ahli bahasa yang handal. Tidak kurang dari sembilan bahasa asing ia kuasai, seperti bahasa Belanda Inggris, Jerman. Perancis, Arab, Turki, dan Jepang, bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Agus Salim yang dilahirkan di Kota Gadang, Sumatera Barat pada tanggal 8 Oktober 1884 itu juga seorang otodidak yang menakjubkan. Sehabis menamatkan HBS (SMP dan SMA Belanda), ia bekerja sebagai penterjemah dan notaris.


Kesempatan untuk belajar itu didapatnya ketika bekerja sebagai pegawai Konsulat Belanda di Jeddah, Saudi Arabia: Pengetahuan agama Islam dapat diperdalam sekaligus dipelajari seluk beluk diplomasi Kepandaiannya itu diturunkan pada anak-anaknya dengan tidak mengirim mereka ke sekolah Belanda tetapi mendidiknya sendiri.


Untuk menyalurkan aspirasi politiknya, Agus Salim masuk Sarekat Islam (SI). Karena keaktifan dan kepandaiannya, la diangkat sebagai anggota Pengurus Pusat la merupakan salah seorang tokoh yang mengupayakan pembersihan organisasi dari ideologi komunisme yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Konsekwensi dari kebijakan itu adalah pengeluaran orang orang komunis Di samping keanggotaannya dalam SI, ia memimpin beberapa surat kabar sebagai sarana untuk mencurahkan aspirasi politiknya,


Pada tahun 1929 SI berubah menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Pada tahun yang sama, Agus Salim diangkat sebagai penasihat teknis delegasi Serikat Buruh Negeri Belanda dalam Konperensi Buruh Internasional di Jenewa, Swiss. Dalam konfererisi itu, ia mendapat kesempatan untuk berpidato dalam bahasa Perancis yang fasih Banyak anggota delegasi yang kagum karena kemampuannya berbahasa dan berpidato sehingga sangat menaikkan nama Indonesia dalam forum internasional.


Ketika H.O.S. Tjokroaminoto wafat pada tahun 1934, Haji Agus Salim diangkat menjadi Ketua partai Sarekat Islam. Dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), ia duduk sebagai anggota. Dalam kedudukan itu, ia terlibat aktif dalam "Panitia kecil perancang undang-undang dasar" bersama dengan antara lain: Prof. Dr. Supomo, Wongsonegoro, Ahmad Subardjo, A,A. Maramis. Berbagai jabatan lain diembannya setelah Proklamasi Kemerdekaan, seperti anggota Dewan Pertimbangan Agung, Menteri Muda Luar Negeri pada masa Kabinet Syahrir 1 (14 November 1945 - 12 Maret 1946) dan Kabinet Syahrir II (12 Maret 1946-2 Oktober 1946).


Ketika Belanda melakukan agresi dengan merebut Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1948, dalam Agresi Militer II, Haji Agus Salim ditangkap bersama pemimpin-pemimpin negara seperti Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Bersama dengan Soekarno dan Syahrir, dia diasingkan ke Bengkulu.


Karena sangat gugup dan usianya yang lanjut, Haji Agus Salim merasa tubuhnya tidak sehat. Kepalanya terasa sakit tak tertahankan. Seorang tentara Belanda yang ditugasi menjaganya bukanlah perwira atau orang terpelajar. Sebagai musuh yang berpikiran jujur dan turut merasakan perjuangan bangsa Indonesia, dia memeluk kepala pejuang tua itu dan meletakkan di pahanya selama dalam perjalanan. Ketika pesawat itu mendarat, Soekarno secara pribadi mengucapkan terimakasih atas sikap kemanusiaan prajurit itu. Setelah ia dibebaskan dan pengakuan kedaulatan diberikan kepada RI, ia memangku jabatan menteri luar negeri dalarn Kabinet Hatta (20 Desember 1949 - 6 September 1950). Haji Agus Salim wafat pada tanggal 4 November 1954 di Jakarta dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Selasa, 25 Mei 2021

Adisucipto || Bapak Penerbang Indonesia

Adisucipto dilahirkan tanggal 4 uli 1916 di Salatiga Setelah menempuh pendidikan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), la melanjutkan pendidikannya ke AMS bagian B di Semarang dan kemudian bersekolah di Perguruan Tinggi Kedokteran Jakarta, meski tidak tamat. Ia kemudian masuk sekolah penerbangan (Militaire Luchtvaaart Opeiding Schoon di Kalijati, Jawa Barat. Bakat dan ketrampilannya berkembang sangat pesat setelah ia memasuki dunia kedirgantaraan. Ia berhasil memperoleh Brevet Penerbangan Tingkat Atas. Selepas dari pendidikan penerbangnya, Adisucipto bertugas di Skuadron Pengintai Udara


Setelah Indonesia merdeka, Adisucipto memasuki dunia militer Mengingat pengalaman dan kemampuannya, Adisucipto ditunjuk menjadi Kepala Staf Angkatan Udara Republik Indonesia. Adisucipto bergerak cepat membangun kekuatan Angkatan Udara Indonesia yang masih sangat minim sarana serta prasarananya tersebut la memandang perlu serta mendesak bagi Indonesia untuk mempunyai para penerbang la pun mendirikan Sekolah Penerbang di Maguwo Yogyakarta


Adisucipto melakukan penerbangan bersejarahnya pada tanggal 27 Oktober 1945 dengan mengemudikan pesawat terbang jenis Cureng dengan tanda merah putih di kedua sayapnya. Pesawat terbang tersebut sesungguhnya pesawat terbang rongsokan yang berhasil diperbaiki Keberhasilan Adisucipto menerbangkan pesawat Cureng tersebut. membuatnya digelari Bapak Penerbang Indonesia


Ketika Belanda melancarkan agresi 1, Adisucipto beserta Abdulrahman Saleh Adi Sumarmo dan F.A. Gani mendapat tugas ke Singapura untuk membawa bantuan dari Palang Merah Malaya dan India Dengan pesawat terbang jenis Dakota (DC-3) bernomor registrasi VT-CLA, mereka berhasil membawa obat-obatan bantuan tersebut. Beberapa saat sebelum pesawat tersebut mendarat di lapangan terbang Maguwo, pesawat pemburu Belanda berhasil menembak pesawat Dakota VT-CLA tersebut hingga jatuh dan terbakar di daerah Ngoto, selatan Yogyakarta. Mas Agustinus Adisucipto gugur dalam peristiwa yang terjadi pada tanggal 29 Juli 1947 tersebut.


Komodor Muda Udara Mas Agustinus Adisucipto dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Pekuncen, Yogyakarta. Pemerintah Indonesia selain mengangkatnya selaku Pahlawan Nasional pada tahun 1974 jugar mengabadikan namanya untuk mengganti nama lapangan terbang Maguwo Yogyakarta.

Adam Malik || Si Kancil Sang Diplomator


Adam Malik dilahirkan di Kampung Keling, Pematang Siantar 22 Juli 1917. Sejak berusia remaja, ia telah aktif berkiprah dalam pentas politik nasional. la pernah mendirikan cabang Partai Indonesia di Medan dan kemudian ditunjuk sebagai ketuanya. Ia juga menggeluti dunia jurnalistik Bersama Pandu Kartawiguna, Albert Manumpak Sipahutar, dan Mr. Sumanang, Adam Malik mendirikan kantor berita Antara pada tahun 1937. Ketika Jepang menyatakan takluk kepada Sekutu, Adam Malik bersama para pemuda militan lainnya menghendaki Indonesia segera menyatakan diri untuk merdeka. Bersama dengan Chairul Saleh dan Sukarni, Adam Malik membawa Sukarno dan Mohammad Hatta ke Rengas Dengklok, Jawa Barat, dan mendesak dua pemimpin bangsa itu untuk segera mengumumkan kemerdekaan Indonesia.


Karir politik dan diplomasi Adam Malik terus melejit setelah Indonesia merdeka. la pernah ditunjuk sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Uni Sovyet dan Polandia pada tahun 1959. Berkat kepiawaian dan kelincahannya dalam berdiplomasi secara rahasia dengan delegasi Belanda di Virginia, Amerika Serikat, Perjanjian New York akhirnya ditandatangani 15 Agustus 1962 hingga menyebabkan Irian Barat kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.


Adam Malik juga pernah ditunjuk untuk memulihkan keanggotaan Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1967. Selain itu, ia juga tercatat sebagai salah seorang pemrakarsa berdirinya ASEAN (Association South East Asia Nations) pada tanggal 9 Agustus 1967 Reputasinya selaku diplomat ulung membuatnya terpilih sebagai Ketua Majelis Umum PBB ke-26 pada tahun 1974. 

Kelincahan dan kecerdikannya membuatnya dijuluki Si Kancil. Adam Malik pernah menduduki jabatan selaku Menteri Luar Negeri selama 5 periode berturut-turut, sejak Kabinet Dwikora II hingga Kabinet Pembangunan II. Selepas dari jabatannya selaku Menteri Luar Negeri, Adam Malik ditunjuk menjadi Wakil Presiden Indonesia mendampingi Presiden Suharto.


Pada tanggal 5 September 1984 Adam Malik wafat di Bandung. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Pemerintah Indonesia menganugerahi gelar kehormatan Pahlawan Nasional kepadanya pada tahun 1990.