Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Juni 2018

Memahami Makna Jiwa Yang Tenang


Makna sederhana dari kata ketenangan jiwa adalah kondisi dimana jiwa itu sudah berada pada tahap ketenangan sejati, rasa lapang, tidak ada tekanan, menerima kenyataan, berpasrah diri pada Sang Khalik, bisa merasakan manisnya iman, bisa mengendalikan diri dan hawa nafsu, jauh dari kebencian, tenteram dan hati menjadi luas dan lepas.

Manusia yang sudah bisa mencapai tahap ketenangan jiwa ini adalah manusia yang memahami hakikat kehidupan, sudah mengertia apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari. Dan umumnya manusia akan menjadi lebih tenang jika ia sudah berada di dekat Penciptanya, jika manusia sudah mengenal dan meyakini bahwa ada kekuatan amat besar di alam ini yang melampaui kekuatan apapun dan hanya Dia yang maha berkuasa atas dirinya dan segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Dan itulah hakikat diciptakannya jiwa ini bagi seluruh mahluk, jiwa itu akan selalu mencari kebenaran hakiki tentang sosok Penciptanya dan jiwa akan merasa tenang jika sudah menemukan dan menjadikan Sang pencipta sebagai sandaran utama hidupnya. Kemanapun jiwa itu pergi dan sembunyi maka jiwa akan selalu berupaya mencari kebenaran hakiki, karena itulah hakikat diciptakannya jiwa.

"Yaitu orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah swt". QS. Ar Rad :28)

Lalu seperti apa sebenarnya wujud dan kiprah sosok jiwa yang tenang dalam diri manusia sebenarnya.

HAKIKAT JIWA, AN NAFS DAN KALBU

Ada baiknya kita mengetahui dulu siapa sosok Jiwa yang menghuni raga kita ini. Jiwa atau Nafs dan biasa orang menyebutnya Soul juga memiliki sisi ghaib yang sama sekali tidak bisa kita definisikan dengan sempurna. Siapa sosok jiwa yang dimaksud dan dimana letak dan penempatannya? An Nafs atau Jiwa adalah yang memiliki bentuk atau wujud atau susuk yang belum tergambarkan, yang diciptakan dari unsur alam yaitu min sulaatin min thiin (ekstrak/saripati alam), maka dari itu sosok jiwa adalah wujud yang mudah berdaptasi dengan alam kehidupan dunia (membutuhkan asupan energi yang berasal dari alam), sedangkan Roh bukan tercipta dari unsur alam ataupun dari unsur yang sama dengan Malaikat mahupun Jin, ia adalah jisim yang hingga sekarang masih merupakan bagian dari rahasia Allah swt.

Semua berawal ketika jiwa ini disumpah untuk meyakini keberadaan Tuhan yang Esa, maka memang ia mengakui dan tidak menyanggah hal tersebut. Bahwa ada kekuatan yang berkuasa atas dirinya dan ia sudah mengakui dan ia mau menjadi saksi di hari akhir kelak. Jiwa ini adalah sosok yang merasa, berkehendak, memahami, dan menerima. Ia bisa membedakan dan bisa mengerti sebuah perintah dari Tuhannya. Jiwa ini sangat memahami bahwa ia sangat bergantung pada penciptanya, bawa ia akan selalu membutuhkan pertolongan Sang Pencipta. Sehingga jelaslah, bahwa setiap jiwa manusia ketika dilahirkan ke dunia ini ia sudah memahami hakikat ketuhanan. Dan Ia dilahirkan sudah dalam kondisi mengenal konsep penciptaan. berikut firman Allah swt dalam surah (Al Araaf:172) yang bermaksud:


“Dan Ingatlah, ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka seraya berfirman : ”Bukakankan Aku ini Tuhanmu”, mereka menjawab :”Bahkan engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi”. Kami lakukan demikaian agar di hari akhirat kelak kamu tidak mengatakan: sesunggunya kami adalah oran-orang lalai terhadap keesaaaan Mu.


Itulah sebabnya setiap Jiwa manusia pasti akan senantiasa mencari tahu keberadaan Tuhan meski ilmu mereka sangat minim, meski mereka berusaha menjauhinya, mereka tidak pernah berhenti untuk mempercayai bahwa ada kekuatan yang Maha dahsyat di dunia ini. Jiwa tidak akan merasa tenang sampai pada tahap ia mengetahui siapa sosok yang yang harus disembah dan diagungkan. Karena diawal mereka sudah terikat janji dan sumpah untuk selalu hanya mengabdi kepada-Nya.

Hakikat kebutuhan beragama sudah ada sejak manusia lahir ke bumi ini. Mulai dari jaman nabi Adam hingga datanglah kemajuan baru dengan lahirnya Nabi Muhammad saw yang membawa risalah kebenaran dengan Kitab suci Al Quran. Meski selama perjalanannya memang ada sebagian ajaran yang menyimpang dan tidak sesuai akidah, namun itu akhirnya bisa dikembalikan pada kebenaran. Didalam al quran sudah terangkum dan tersusun jelas ajaran-ajaran dari nabi sebelumnya, mulai dari Kitab Taurat, Jabur dan Injil menjadi sebuah kitab yang sempurna. Dan semuanya memiliki masa berproses dengan waktu yang cukup panjang.

“Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat allah, membersihkan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. QS. Ali Imran:164.

Pilihan Jalan Ketaqwaan dan Kefasikan

Dan ketika proses penciptaan jiwa hampir mencapai kesempurnaan, maka turun ayat berikut ini, yang menyatakan bahwa pada setiap jiwa diilhamkan pilihan kepada jalan ketaqwaan atau kefasikan dalam menempuh bahtera kehidupan. Setiap jiwa akan mengetahui mana yang dimaksud dengan kebenaran dan mana yang dimaksud dengan kesalahan. Dan jiwa juga diberi pemahaman bahwa jika ia mau mensucikan diri (jiwa)nya maka ia akan menjadi lebih baik, sedangkan jika ia merusak jiwa tersebut maka ia akan menjadi kotor.

Surah Asy Syams (91:7-9) . Firmanya yang bermaksud:

Dan demi nafs (jiwa) serta penyempurnaannya, maka Allah ilhamkan kepada nafs itu jalan ketaqwaaan dan kefasikannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikannya dan sesungguhnnya rugilah orang yang mengotorinya.

Ini artinya bahwa setiap jiwa juga sudah diberikan pengetahuan tentang konsep ketuhanan yang benar, juga diberikan pemahaman tentang hakikat memilih jalan yang lurus dan jalan keburukan, juga dilengkapi dengan kemampuan mengenal dan belajar melalui banyak hal.

Setiap jiwa diperbolehkan menentukan pilihannya masing-masing. Sepenuhnya itu tergantung pada kebutuhan masing-masing jiwa. Setiap jiwa akan bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Dan setiap keputusan sudah diambil dengan penuh kesadaran, sudah melewati tahap pencarian, pembelajaran, sudah di pikirkan dan difahami dan dikaji . Tidak ada lagi alas an bagi setiap jiwa untuk menghindar dan menyanggah semua kenyataan ini bahwa manusia adalah mahluk yang tidak bersyukur jika ia tidak memahami hakikat kemanusiaannya yang sempurna ini.

“maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang dikerjakannya.” Quran At Takwir :14

Dengan demikian, jelaslah bahwa setiap jiwa akan bertanggung jawab pada diri mereka masing-masing dihari akhir kelak. Setiap jiwa akan dimintakan pertanggungjawabannya atas semua perbuatan yang pernah dilakukan di dunia. Tidak ada yang dapat menyelamatkan setiap jiwa dari kehancuran dan siksa api neraka, selain amal ibadahnya selama di dunia.

Selasa, 19 Juni 2018

Mengetahui Tentang Hasud Serta Dampak Yang Ditimbulkannya


Di dalam berusaha meraih keinginannya, manusia bisa menempuh berbagai cara. Tapi ada batas-batas yang sebaiknya diperhatikan dan tidak dilanggar. Manusia mempunyai keinginan itu hal yang wajar dan manusiawi tapi tidak berarti bisa ‘menabrak’ apapun yang ada asal tujuannya tercapai. Apapun keinginan sebaiknya dilakukan dengan cara yang masih terkendali, tidak melanggar hukum dan tidak mencederai orang-orang yang tidak bersalah.

Jadi salah satu batas yang harus diperhatikan adalah hukum dan tidak mencederai orang lain yang tidak bersalah. Apapun yang dilakukan selama itu tidak dilanggar tidak akan menjadi masalah. Tapi kalau tidak terkendali dan kedua hal di atas dilanggar itu akan menimbulkan kerusakan di dalam kehidupan. Dan kalau semua orang melakukan itu, kehidupan manusia secara keseluruhan menjadi tidak karuan seperti tidak ada lagi hukum.

Kami berikan contoh yang umum terjadi..
Untuk mengelak dari kesalahan dan keinginan yang terlalu kuat untuk dianggap benar kemudian orang menyebar “Hasud”. Fakta tidak benar tentang orang-orang tertentu yang itu membuat orang-orang yang sebenarnya tidak bersalah menjadi dianggap bersalah dan terhukum oleh hasud tersebut. Hasud seperti bola api yang menggelinding dan merusak apapun yang dilewatinya. Orang yang termakan hasud kemungkinan besar jadi bermusuhan dengan pihak korban, dan pihak yang menjadi korban terkena penghakiman orang-orang yang terkena hasud. Karena orang yang termakan hasud melihat korban seperti apa yang menjadi hasud tersebut dan besar kemungkinan berusaha memusuhi dan ‘menghukum’ korban sesuai dengan isi dari hasud.

Kita ambil sebuah contoh, si Z mengatakan pada penduduk kampung bahwa si K telah mendzalimi dirinya, menganiaya dan memperlakukannya secara semena-mena. Kita berhenti sejenak disini..
Coba siapapun orang di dekat anda yang tidak anda kenal anda minta untuk berhenti sebentar untuk menjawab pertanyaan anda. Tanyakan ke orang itu : Apa yang ada di benak anda kalau saya bilang ada orang yang telah berbuat Dzalim, aniaya dan semena-mena?

Apapun jawaban orang itu pasti itu menggambarkan perbuatan yang buruk.

Dan seperti itulah konotasi orang umum tentang perbuatan tersebut dan itulah yang akan ada di benak orang yang mendengarkan hasud. Sekarang bisa anda bayangkan apa yang ada di benak para penduduk atau pihak-pihak yang sudah dihasut tentang pihak yang menjadi korban hasud. Si korban tidak melakukan seperti apa yang ada di dalam hasud tapi terhukum oleh penghakiman orang-orang yang termakan hasud. Kerusakan yang ditimbulkan bisa menjadi besar sekali dan melebar kemana-mana. Pertama itu menimbulkan keresahan dan kegaduhan. Ada pihak-pihak yang begitu saja termakan hasud tapi mungkin ada beberapa yang masih menahan kesimpulan. Baik yang percaya dan yang masih menahan kesimpulan kemudian mencoba mencari tahu kebenaran berita tersebut ke pihak yang terkena hasud. Pihak yang masih menahan kesimpulan mungkin bisa lebih sabar. Tapi pihak yang sudah terlanjur meyakini hasud mungkin tidak mau menerima penjelasan apapun dan tetap menganggap korban seperti apa yang menjadi isi hasud. Akhirnya disitu bisa terjadi keributan dan kegaduhan. Dari sisi yang terkena hasud juga bisa menjadi tersulut emosinya karena kalau baginya itu tidak benar dan bahkan yang sebenarnya terjadi kebalikan dari itu. Karena kecewa dan emosi waktu baru mendengar bahkan sempat mengatakan hal-hal seperti : Memangnya saya orang tidak waras sampai melakukan hal-hal seperti itu?

Kalau hal ini terjadi pada orang umum yang pikirannya pendek, hatinya sempit dan mudah tersulut emosi, kejadian seperti ini sudah bisa menimbulkan konflik besar, keributan dan adu fisik. Tapi kalau terjadi pada orang yang sabar dan lapang dada mungkin orang tersebut masih bisa menahan diri, berfikir jernih dan menempuh langkah yang lebih baik untuk menyelesaikannya.

Hasud sudah membuat orang-orang yang termakan hasud berdosa karena berfikir buruk dan menganggap buruk orang yang terkena hasud. Dan pihak korban menjadi terhukum oleh penghakiman orang-orang yang terkena hasud.

Bahkan ada beberapa orang yang melakukan hasud sampai tahap yang jauh dalam arti pantang menyerah. Yang menjadi korban tidak hanya pihak yang secara langsung terkena hasud tapi juga siapa saja yang tidak mau percaya dengan hasud nya dan tidak mau sejalan dengan dirinya. Kalau percaya dengan hasud = teman, kalau tidak percaya dengan hasud = lawan. Jadi situasinya tambah tidak karuan apalagi disaat orang-orang yang percaya dengan hasud dihasut lagi supaya ikut melawan orang-orang yang tidak percaya dengan hasud. Ini situasinya menjadi tidak karuan karena motivasinya menyebar permusuhan. Mempengaruhi orang-orang yang termakan hasud supaya membenci korban dan orang-orang yang tidak termakan hasud. Sekali lagi kalu hal ini dialami oleh orang-orang yang pikirannya pendek dan hatinya sempit bisa menjadi konflik besar dan berkepanjangan. Sampai kapanpun juga tidak akan selesai kalau pihak yang salah tetap saja merasa benar. Tapi kalau hal ini terjadi pada orang-orang yang setidaknya masih ada iman dan rem di dalam dirinya, masih bisa menahan diri dan menganggap itu sebagai ujian. Selebihnya melihat hal-hal apa yang perlu dilakukan sesuai dengan mekanisme yang ada.

Bisa anda lihat kerusakan yang timbul dari hal ini menjadi besar dan meluas. Jadi ini seharusnya adalah perbuatan yang harus dihindari dengan harga berapapun, bukan dilakukan dengan harga berapapun.

Dari situlah pointnya entah apapun keinginan kita tapi jangan sampai melakukan hal yang tidak terkendali, melanggar hukum dan mencederai orang-orang yang tidak bersalah. Kalau tidak terkendali akan menimbulkan kerusakan. Contoh lain misal ada orang yang kesal dengan orang dan emosi lalu tiba-tiba langsung memukul dengan begitu saja. Kalau itu dilakukan sudah masuk ke ranah pidana terlepas siapapun yang salah. Atau karena ngotot ingin menjatuhkan orang kemudian meminta bantuan dukun. Atau setiap ada masalah dan konflik kecenderungan dan nalurinya melakukan hal-hal yang menjurus pada tindakan kriminal.

Remnya keinginan itu iman, kadar keimanan seseorang yang akan menentukan seberapa jauh orang berusaha mendapatkan keinginannya. Apakah orang wajar-wajar saja dalam berusaha meraih keinginan atau sampai berbuat jauh seperti contoh-contoh yang disebutkan di atas tergantung kadar keimanannya. Agama bukan cuma soal upacara-upacara tapi juga memahami maknanya. Dan salah satu fungsi agama seharusnya bisa menjadi rem bagi kita untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak terkendali dan terlalu jauh untuk meraih keinginan.

Jumat, 15 Juni 2018

Harga Kesuksesan Lebih Murah Dibanding Harga Kegagalan



Banyak sekali orang yang enggan saat melihat harga kesuksesan. 
“Ternyata susah ya …”, yang diikuti keengganan kemudian “divalidasi” dengan berbagai alasan sehingga berhenti atau menyerah berjuang. Mereka melihat, cara meraih sukses itu berat, sehingga mereka memutuskan tidak meraihnya, atau mengkhayal ada cara sukses yang mudah dan tidak perlu berjuang.
Padahal, Harga sebuah kegagalan jauh lebih besar.
Anggaplah untuk meraih sukses itu menderita karena harus kerja keras.

Pertanyaanya, kalau gagal apakah tidak menderita ?

Ya, memang sama-sama menderita, tetapi bentuk penderitaan yang tidak sama. Penderitaan dalam meraih sukses, akan terbayarkan dengan kebahagiaan, dengan terpenuhi kebutuhan orang-orang yang kita cintai.

Berbeda dengan penderitaan karena kegagalan, tidak perlu saya jelaskan disini. Gagal itu berat, mending sukses saja.

Ikhtiar Adalah Kewajiban Kita

Bertawakal kepada Allah akan masa depan kita tidak menggugurkan ikhtiar. Rasulullah SAW adalah orang paling bertawakal, namun beliau tetap berikhtiar, berperang dengan strategi terbaik, berhijrah, dan mengajak manusia kepada kebaikan terus-menerus.
Jadi, jangan jadikan tawakal sebagai alasan tidak berikhtiar. Justru jadikan tawakal dengan energi penguat kita karena yakin, setiap ikhtiar kita akan mendapatkan pertolongan Allah. Justru orang yang bertawakal harusnya lebih berani menghadapi hal-hal yang berat.
Jangan jadikan takdir sebagai alasan tidak meraih kesuksesan. Kita manusia, tidak mengetahui takdir kita esok hari. Dan sekali lagi, Rasulullah SAW adalah orang paling beriman kepada takdir, tetapi beliau tetap berjuang.

Tapi Saya Baik-baik Saja

Banyak kasus, orang yang sebelumnya dalam kondisi baik, kemudian terpuruk. Setelah terpuruk barulah mau melakukan apa pun yang perlu dilakukan. Mereka bisa bekerja keras dan melakukan hal-hal luar biasa.

Kenapa tidak dilakukan sebelumnya? Padahal bisa kan? Bukan kepepet yang membuat orang hebat. Kepepet hanya memicu, karena sebenarnya kehebatan itu sudah ada dalam diri Anda. Jadi tidak perlu menunggu kepepet, keluarkan kehebatan Anda sekarang juga.

Jika memang, hidup kita dalam kondisi baik-baik saja, tidak ada salahnya kita menjadi lebih baik lagi. Tidak ada salahnya untuk memperkuat kehidupan kita, meningkatkan ketahanan keluarga baik dari segi ekonomi dan kesehatan.

Kita bukan tidak tawakal dan tidak beriman, tapi kita sedang berikhtiar agar kita lebih baik lagi dan bertahan lebih kuat dalam kebaikan. Kondisi berubah terus, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Selain kita bertawakal kepada Allah, berdo’a untuk terus dalam kebaikan, kita pun terus berikhtiar agar kebaikan itu terus bersama kita.

Kita bukan berharap kondisi memburuk atau terpuruk, tapi kita fokus agar kita tetap dalam kondisi baik dan berusaha untuk mempertahankan kebaikan semampu kita dan meningkatkannya lagi. Bukan tidak bersyukur, justru ini sebagai bentuk syukur mengoptimalkan dan mempertahankan nikmat yang Allah berikan kepada kita.

Jika Anda dalam kondisi baik-baik saja saat ini, ini sebuah bukti bahwa Anda mampu menciptakan kondisi hidup yang baik. Bukti inilah yang harusnya menjadi penyemangat, pendorong, memberi rasa percaya diri menjadi lebih baik. Anda sudah sukses dan bisa meraih sukses yang lainnya lagi.

Semua Adalah Keputusan Anda Untuk Memilih

Anda bisa memutuskan untuk hidup lebih baik dan lebih sukses dan bersedia membayar harganya. Anda siap akan berusaha segenap tenaga, bekerja keras, dan pantang menyerah. Ini jauh lebih terhormat. Rasa capek dan penderitaannya berbeda.

Dan, bukan hanya Anda yang merasakan keberhasilan Anda. Juga orang-orang yang Anda cintai. Itu hal yang luar biasa. Harga kesuksesan, seberapa pun mahalnya, akan terbayarkan dengan sesuatu yang luar biasa.

Saya yakin, Anda bukanlah orang yang akan memilih menghindari penderitaan demi kesenangan sesaat, mengikuti maunya hawa nafsu untuk bermalas-malasan . Bukan hanya memilih pekerjaan yang sudah bisa dan biasa dilakukan. Tetapi berani mengambil keputusan, melakukan hal yang berbeda, meski itu tidak mudah, demi untuk meraih sukses yang lebih besar.

Bukan Masalah Anda Bisa Atau Tidak, Tapi …

Jangan mengatakan tidak bisa . Sudah terlalu banyak contoh dan cerita yang bisa kita temui bagaimana pun seseorang yang memiliki keterbatasan namun mampu meraih sukses luar biasa. Allah Maha Adil, memberikan peluang yang sama kepada semua makhluq-Nya. Selanjutnya terserah Anda.
Kuncinya adalah kemauan Anda. Ada solusi jika Anda tidak bisa. Solusinya adalah dengan belajar. Anda bisa belajar dengan berbagai cara agar bisa. Mulai dari membaca, mengamati, bertanya, dan yang lebih penting adalah mencoba. Jika belum mahir, Anda bisa melatihnya.

Banyak yang mengeluh dengan kondisinya, tetapi tidak berusaha mengubah kondisinya. Jika Anda tidak bisa, itu adalah sebuah kondisi. Jika Anda tidak punya, itu adalah sebuah kondisi. Jika Anda menderita, itu juga sebuah kondisi. Semuanya bisa Anda ubah dengan ikhtiar.

Ingatlah, bagaimana pun “penderitaan” yang akan Anda hadapi saat berjuang meraih sukses, memberikan penghidupan bagi keluarga, dan menjadi Muslim yang lebih kuat, semua akan membawa hasil. Apakah itu sebuah kesuksesan juga pahala atas ikhtiar kita.

Sementara jika kita berpangku tangan, dengan berbagai alasan yang sebenarnya keengganan kita melalui perjuangan, akan berdampak buruk bukan hanya pada diri Anda, tetapi juga pada orang-orang yang Anda cintai dan mereka juga mengandalkan Anda. Harga kegagalan itu lebih berat. Bukan hanya berdampak pada diri sendiri.

Semoga Bermanfaat !




Kamis, 14 Juni 2018

3 Hikmah Wahyu Terakhir Rasulullah


Sahabat Santri Briliant, wahyu yang terakhir diturunkan adalah surat Al Maidah ayat tiga. Ayat itu dibawa oleh Jibril kepada Rasulullah saat beliau melaksanakan ibadah haji atau yang lebih dikenal dengan istilah haji wada’. Haji wada’ berarti haji perpisahan, disebut begitu karena Rasulullah mengatakan dalam kutbahnya, entah beliau masih bisa berhaji lagi atau tidak tahun depan.

Para sahabat dan umat Islam yang turut serta berhaji pada saat itu, bergetar hatinya mendengar apa yang diucapkan Rasulullah. Tak sedikit pula dari mereka yang meneteskan airmata. Apakah ini pertanda bahwa junjungan semesta itu akan meninggalkan mereka semua ?

Berikut adalah terjemah dari surat Al Maidah ayat tiga :
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan.

Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Sahabat Saliha, jika kita mau mentadaburi, di dalam wahyu terakhir ini ada beberapa point penting yang dapat kita ambil pelajarannya.

Hewan yang haram dimakan
Dalam ayat ini Allah menyebutkan klasifikasi dari makanan yang haram masuk ke dalam perut manusia. Beberapa di antaranya adalah bangkai, darah (karena kebiasaan orang Arab dulu yang suka memakan darah yang dididihkan), daging hewan yang disembelih tanpa menyebut asma Allah, hewan yang tercekik, terpukul, jatuh, ditanduk dan diterkam binatang buas kecuali kita sempat menyembelihnya. Selain itu, sembelihan yang dipersembahkan untuk berhala sebagai sajen juga haram dimakan.

Larangan Mengundi Nasib
Sahabat Saliha, dalam ayat ini Allah juga menegaskan tentang haramnya mengundi nasib dengan anak panah. Ini adalah kebiasaan orang-orang Arab pada jaman dulu, yang disebut Allah sebagai salah satu kefasikan. Dalam era milenial ini, mungkin pengundian nasib yang serupa masih ada, hanya saja caranya berbeda. Sebut saja perjudian online yang semakin merajalela, atau permainan kartu untuk meramalkan nasib. Keduanya sama saja dengan mengundi nasib, menggantungkan nasib kepada selain Allah.

Penyempurnaan Islam
Dalam wahyu terakhir ini, Allah telah menyempurnakan Islam sebagai agama Ilahiah yang Dia ridai. Allah juga menyatakan bahwa kita semua tidak perlu takut terhadap apa pun selain kepada-Nya. Islam telah dikokohkan dengan kekuatan, hingga tidak ada yang bisa mengalahkannya termasuk orang-orang kafir sekalipun. Islamlah dien yang Dia ridai sampai akhir jaman nanti, yang akan membawa kita semua dalam kebaikan di dunia sampai akhirat.

Ampunan Bagi Yang Terpaksa Memakan Makanan Haram
Surat Al Maidah ayat tiga ini juga menjelaskan tentang pengampunan Allah bagi orang-orang yang terpaksa dan kelaparan lantas memakan apa yang diharamkan tadi. Perlu digarisbawahi, kelonggaran ini berlaku apabila kita terjepit dalam keadaan yang benar-benar darurat dan tidak ada pilihan lain, sehingga jika tidak memakan yang haram itu nyawa kita terancam. Keadaan sedemikian rupa menjadikan yang haram jadi halal, tentunya hanya untuk menyambung hidup saja dan bukan untuk diterus-teruskan.

Itu dia, Sahabat Santri Briliant. Beberapa hal yang dapat kita pelajari dari surat Al Maidah ayat tiga, wahyu terakhir yang disampaikan Jibril kepada Rasulullah. Tak berselang lama setelah itu, Rasulullah jatuh sakit dan meninggalkan kita untuk selama-lamanya, yang juga menandakan akhir dari wahyu langit.

Semoga kita dapat mengambil pelajaran.

Sabtu, 21 April 2018

Pilih Mana Nih, Menikah Dulu Atau Lulus S2 Dulu.


Salah satu alasan mengapa Allah memberikan kita kehidupan ialah supaya kita bisa memilih diantara pilihan-pilihan yang sudah disediakan oleh-Nya di dunia ini. Banyak pilihan hidup yang harus kita pilih. Entah itu kita ingin menjadi orang bener atau begajulan, menjadi orang jahat atau baik, menjadi orang miskin atau kaya, menjadi pengusaha atau buruh, dan masih banyak lagi pilihan lainnya termasuk pilihan dalam menentukan masa depan. Semua pilihan itu pasti ada risiko dan pengorbanannya (trade off).

Belakangan ini di televisi muncul iklan sebuah produk kecantikan yang temanya bisa dibilang antimainstream. Iklan itu bercerita tentang seorang gadis Cantik berhijab yang sedang kebingungan dalam menentukan pilihannya ” nikah dulu atau lulus S2 dulu baru Menikah?”. Memang sebuah pilihan yang cukup sulit apalagi bagi Freshgraduater yang masih sangat kebingungan dalam menentukan masa depannya. Jangankan memikirkan pernikahan, memilih pekerjaan yang cocok saja sulit. Sebenarnya untuk saat ini bukan perkara cocok atau tidaknya, melainkan ada atau tidaknya lowongan pekerjaan bagi mereka. Wajar memang, mengingat saat ini mencari pekerjaan cukup sulit apalagi dengan kondisi Ekonomi yang lesu seperti ini. Banyak perusahaan yang gulung tikar dan mem-PHK ribuan karyawannya.

Pilihan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 bisa menjadi alternatif bagi para Freshgraduater yang kesulitan mencari pekerjaan supaya tidak lama-lama di cap sebagai pengangguran. Tentunya pilihan ini berlaku bagi sebagian dari mereka yang berasal dari Keluarga yang cukup mampu dari segi Ekonomi. Lalu bagaimana dengan sebagian yang lain yang (mungkin) tidak mampu untuk membiayai kuliahnya di S2?. Masih banyak jalan menuju Roma dan tentunya masih banyak juga jalan menuju S2. Salah satunya ialah mengambil beasiswa yang sudah banyak disediakan baik oleh pemerintah maupun kalangan swasta.

Menentukan pilihan untuk melanjutkan Pendidikan ke jenjang S2 tentunya harus dibarengi dengan tujuan yang jelas supaya gelar yang nantinya didapatkan tidak sia-sia. Sebagian orang melanjutkan S2 untuk melancarkan prosesnya dalam kenaikan jenjang karir di perusahaan atau memuluskan jalannya agar lebih mudah diterima kerja. Sebagian lainnya banyak yang mempertimbangkan untuk menjadi pendidik (dosen), peneliti, atau hanya sekedar ingin memiliki ilmu dan wawasan yang lebih luas lagi sebagai bekal dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Semua itu tergantung dari kita, tujuan yang mana yang harus kita pilih dalam menentukan pilihan melanjutkan Studi ke jenjang S2.

Pilihan lain yang tak kalah pentingnya ialah “menikah”. Apalagi bagi kalangan Freshgraduateryang rata-rata sudah memasuki usia yang matang untuk menikah. Bahkan banyak Mahasiswa yang sudah menikah sebelum mereka lulus Kuliah. Mengapa pilihan ini penting?. Secara biologi, tujuan menikah ialah untuk melanjutkan kelangsungan hidup dengan cara melahirkan generasi-generasi berikutnya. Sedangkan secara agama, tujuan menikah ialah untuk menjalankan sunnah Rasulullah SAW.

Dalam literatur Agama Islam, hukum menikah bisa bermacam-macam tergantung kondisinya. Namun, dasar hukumnya ialah Mubah (dibolehkan). Menikah hukumnya wajib bagi orang yang sudah mampu untuk melangsungkan pernikahan, namun nafsunya sudah mendesak dan takut terjerumus dalam perzinaan. Menikah hukumnya sunnah bagi orang yang nafsunya sudah mendesak dan mampu untuk melangsungkan pernikahan, namun masih bisa menahan dirinya dari berbuat zina. Menikah hukumnya haram bagi orang yang tidak mampu memenuhi nafkah Lahir dan Batin kepada istrinya serta tujuannya menikah hanya untuk menguasai harta sang istri atau menyakitinya. Menikah hukumnya makruh bagi orang yang lemah syahwat dan tidak mampu memberi belanja istrinya, walaupun tidak merugikan istri, karena ia kaya dan tidak mempunyai keinginan syahwat yang kuat. Juga makruh hukumnya jika karena lemah syahwat itu ia berhenti dari melakukan sesuatu ibadah atau menuntut sesuatu ilmu. Menikah hukumnya mubah bagi orang yang tidak terdesak oleh alasan-alasan yang mewajibkan segera menikah atau karena alasan-alasan yang mengharamkan untuk menikah.

Kedua pilihan masa depan ini harus dipertimbangkan matang-matang sebelum memutuskannya. Jika di iklan produk kecantikan tadi sang gadis berhijab menentukan pilihannya untuk lulus S2 dulu baru menikah dengan alasan agar sebelum berumah tangga menjadi orang yang terpelajar, lalu bagaimana dengan kita???. Apa alasan kita dalam memutuskan memilih salah satu pilihan di atas?.


Aku Mau Menikah Dulu, Baru Melanjutkan S2

Pilihan Pertama ini bisa jadi berlaku bagi mereka yang sudah memiliki pasangan. Lalu bagaimana dengan mereka yang masih Jomblo? Apakah mereka tidak berhak memilih pilihan Pertama ini?. Berhak saja, asalkan mereka mau bersabar dulu untuk mencari jodohnya, hehehe. Pertimbangan-pertimbangan yang lain juga harus diperhatikan jika memilih pilihan pertama ini. Pertimbangan pertama menyoal hukum menikah menurut literatur Islam. Bagi kelompok orang yang sudah mampu untuk menikah dan khawatir terjerumus dalam perbuatan zina, maka pilihan Pertama ini wajib mereka ambil.

Kedua ialah tentang kemapanan dan kesiapan. Tak bisa dipungkiri bahwa pernikahan yang tujuan utamanya ialah membentuk sebuah Keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warrahmah membutuhkan kemapanan dan kesiapan baik dari sisi psikis, psikologis, biologis, spiritual, maupun materi. Bagi mereka yang sudah memiliki kemapanan dan kesiapan dalam semua sisi itu alangkah baiknya jika pilihan Pertama ini diambil.

Ketiga ialah tentang umur. Banyak diantara kita yang menargetkan usia untuk menikah. Hal ini tidak salah karena merupakan hak masing-masing orang asalkan tidak menikah di usia yang terlalu muda atau terlalu tua. Batas usia minimal untuk menikah menurut UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan ialah bagi wanita 16 tahun dan pria 19 tahun. Bagi wanita, menikah juga sebaiknya tidak di atas usia 35 tahun karena secara medis wanita yang mengandung anak Pertama di usia 35 tahun keatas sangat berbahaya pada proses persalinannya kelak. Jadi, bagi mereka yang sudah memiliki target usia untuk menikah bisa memilih pilihan Pertama ini.

Melanjutkan S2 setelah menikah ialah optional tergantung minat masing-masing pasangan. Jika memang di rasa butuh untuk melanjutkan S2 sebaiknya mengambil keputusan itu, namun jika tidak sebaiknya tidak diambil. Pilihan melanjutkan S2 setelah menikah juga dapat dilakukan untuk mengimbangi jenjang Pendidikan pasangan jika pasangan kita memiliki jenjang Pendidikan yang lebih tinggi. Tentunya Semua itu kembali ke pribadi masing-masing.



Aku Mau S2 Dulu, Baru Kemudian Menikah

Secara garis besar pilihan kedua ini didasarkan atas minat masing-masing orang apakah setelah lulus Kuliah langsung melanjutkan S2 atau sebaliknya. Sebagian orang ingin memiliki bekal ilmu yang sematang mungkin untuk masa depannya. Maka pilihan untuk melanjutkan S2 dulu baru kemudian menikah adalah pilihan yang tepat. Membangun rumah tangga yang harmonis juga membutuhkan ilmu yang matang. Dengan bekal S2 kita bisa membangun rumah tangga yang cerdas. Cerdas dalam menentukan Pendidikan anak yang sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Sebagai Ibu Rumah Tangga, cerdas dalam memilih menu makanan yang sehat dan bergizi bagi Keluarga. Cerdas dalam membentuk karakter anak ke arah yang lebih baik, dan tindakan-tindakan cerdas lainnya. Jadi, pilihan kedua ini bisa dibilang mencari bekal dulu sebelum berumah tangga.

Semua pilihan diatas kembali ke pribadi kita masing-masing. Pilihan mana yang kita pilih kita sesuaikan dengan rencana dan kebutuhan kita. Jangan sampai kita salah pilih yang nantinya akan menimbulkan rasa penyesalan di kemudian hari.

Sumber Artikel :